Senin, 24 November 2008

Nuklir Tidak Ramah Tapi Kita Membutuhkannya

Proyek Manhattan yang disponsori pemerintah Amerika Serikat pada tahun
1930-an telah menjadikan ilmu pengetahuan tentang reaksi nuklir sebagai sebuah
senjata yang mengerikan dengan dalih menciptakan perdamaian untuk menciptakan
tatanan dunia baru. Dengan alasan mengakhiri Perang Dunia Ke-2, dua kota di Jepang
menjadi saksi dahsyatnya efek yang ditimbulkan oleh bom nuklir tersebut. Sebagai
catatan, sampai saat ini hanya Amerika Serikat saja yang pernah menggunakan senjata
nuklir pada pertempuran sebenarnya. Mungkin sejak saat itu masyarakat dunia
mempunyai sudut pandang lain yang tidak bijak mengenai nuklir, walaupun menurut
perhitungan sebenarnya bom nuklir tidak seberapa mengerikan jika dibandingkan
dengan bom hidrogen. Ditambah lagi dengan kejadian-kejadian lain seperti insiden yang
terjadi di Chernobyl, Rusia, dimana ratusan orang tewas dan jutaan lainnya mengungsi
dikarenakan ledakan di instalasi pembangkit listrik tenaga nuklir tersebut. Film-film
Holywood juga memperparah persepsi keliru tersebut dengan seringnya menempatkan
nuklir sebagai bagian dari tokoh antagonis yang ingin merusak tatanan dunia.
Pemanfaatan teknologi nuklir sebagai sumber energi telah lama dilakukan di
negara-negara maju seperti AS, Perancis, Jepang, atau negara yang mempunyai
kepentingan politis seperti India, Pakistan, dan Iran. Secara ekonomis, sumber energi
radioaktif ini lebih murah dibandingkan bahan bakar fosil yang dimungkinkan tidak
akan bertahan dalam waktu seratus tahun lagi. Cadangan zat radioaktif, salah satunya
uranium, di dunia ini bila dikonversi ke satuan energi secara matematis jauh lebih besar
jika dibandingkan dengan cadangan bahan bakar fosil yang ada. Sehingga bisa
memberikan waktu yang lebih dari cukup kepada umat manusia untuk mencari sumber
energi alternatif lainnya jika suatu saat energi nuklir juga habis. Sebenarnya
penggunaan elemen nuklir tidak jauh dari kehidupan kita sehari-hari dan memberikan
manfaat yang tidak sedikit. Selain sebagai sumber energi, zat radioaktif tersebut juga
digunakan dalam berbagai bidang misalnya aplikasi MRI dalam bidang kesehatan,
rekayasa genetik bibit dalam pertanian hingga dalam pengetahuan eksplorasi luar
angkasa.
Indonesia, terutama pulau jawa sebagai nadi perekonomian bangsa dalam
beberapa tahun kedepan akan mengalami defisit energi yang semakin parah jika tidak segera
ditanggulangi. Peningkatan kebutuhan listrik untuk sektor rumah tangga dan
industri tidak sejalan dengan tingkat pertumbuhan pembangkit listrik nasional. Hal
tersebut jika dibiarkan akan mengakibatkan kemunduran ekonomi secara agregat dan
kekacauan sosial akibat semakin seringnya pemadaman bergilir. Oleh karena itu untuk
menanggulangi hal tersebut, pemerintah menggulirkan rencana pembangunan PLTN
pertama di Muria.
Pada dasarnya Indonesia mempunyai sumberdaya manusia dan alam yang lebih
dari cukup untuk membangun dan mengoperasikan instalasi energi nuklir, bahkan
diperkirakan cadangan tambang uranium Indonesia bisa dimanfaatkan hingga ratusan
tahun. Diharapkan dengan energi yang relatif murah ini, tercipta multiplier effect
sehingga kesejahteraan bangsa bisa terangkat dan kompetensi di dunia Internasional
semakin meningkat. Secara garis besar, masyarakat Indonesia terutama kalangan
industri antusias dan menyambut baik dengan rencana pemerintah untuk mendirikan
pembangkit tenaga nuklir karena secara tidak langsung akan meningkatkan
perekonomian bangsa dan menciptakan jutaan lapangan kerja baru selama beberapa
dekade ke depan. Kedepannya, pembangunan PLTN di luar jawa juga akan memberikan
kontribusi positif terhadap sosial ekonomi dan pertahanan Indonesia secara keseluruhan.
Selama ini riset dan pemanfaatan sumber nuklir di Indonesia belum mencapai taraf
pemanfaatan secara massal dikarenakan tarik ulur politik Indonesia di dunia
internasional yang tidak menginginkan dominasi negara maju terhadap nuklir
tergoyahkan. Untuk di dalam negeri sendiri, kendala terjadi karena belum adanya
sosialisasi yang tepat tentang tentang nuklir tersebut. Sebagian kecil masyarakat
cenderung antipati dikarenakan belum paham betul tentang isu tersebut. Disinilah tugas
pemerintah untuk memberikan gambaran obyektif tentang apa yang sebenarnya terjadi
seperti yang diuraikan diatas.
Memang energi nuklir bukannya tanpa risiko. Dalam pengoperasiannya, standar
operasi dan prosedur harus dilaksanakan. Pemeliharaan dan evaluasi setiap saat
merupakan kewajiban yang tidak dapat ditawar. Sebagai contoh, insiden yang terjadi di
Chernobyl pada tahun 1980an di curigai akibat kelalaian manusia yang berujung maut.
Belum lagi sampah nuklir sebagai residu dari reaksi berantai, bisa menimbulkan
pencemaran radioaktif jika tidak diolah dan dikemas dengan sempurna. Sampah tersebut
cenderung tidak bisa didaur ulang. Sebagai catatan, radiasi mematikan dari sampah tersebut
tidak akan hilang dalam waktu ratusan tahun. Dari sisi kesehatan, banyak kasus
terjadi bahwa pekerja di PLTN mengalami keracunan radioaktif akibat terpapar radiasi
dalam waktu relatif lama saat bekerja di instalasi nuklir. Pada dasarnya tidak ada benda
yang bisa mengisolasi radiasi nuklir dengan sempurna, termasuk timbal. Oleh karena itu
semakin sedikit kontak fisik langsung manusia dengan nuklir, maka semakin baik.
Faktor geologi juga berperan penting dalam pendirian sebuah instalasi energi nuklir.
Atas dasar itu juga pemerintah berencana memilih daerah Muria sebagai tempat pertama
untuk membangun instalasi karena tempat tersebut kondisi geologinya relatif stabil dan
jauh dari akses sebagian besar penduduk untuk mengeliminasi kemungkinan yang
timbul.
Suatu saat nanti dengan semakin banyaknya PLTN yang dibuat di Indonesia,
saya berharap ketimpangan sosial antara pulau-pulau akan berkurang dan bangsa
Indonesia bisa menatap masa depan dengan lebih cerah dan sejajar dengan negara maju
lainnya. Amin


Artikel terkait :
1. Balada PLTN di Indonesia

2. Nuklir Penyelamat Peradaban

3. Dilema Pembangunan PLTN di Indonesia

4. PLTN = Revolusi Kebiasaan Indonesia

5. Nuklir, Ancaman atau Solusi ?

6. Atasi Krisis Energi & Global Warming Dengan Teknologi Nuklir

7. Nuklir sebagai Solusi Bergengsi

8. Status Nuklir Ekonomis, tetapi Membawa Bencana

9. PLTN, Teknologi Prospektif Untuk Masa Depan

10. Nuklir Tidak Ramah Tapi Kita Membutuhkannya

11. Reaktor Energi Nuklir

12. Energi Nuklir Sebagai Pembangkit Listrik

13. PLTN tunjang Produksi Listrik Indonesia

14. Bahaya Radio Aktif dari PLTN

15. Resiko dan Masalah dari PLTN

16. Proses kerja PLTN sebagai pembangkit listrik

17. Pemanfaatan energi Nuklir dan reaksi energi nuklir

Krisis Energi dan PLTN di Indonesia

19. Reaksi dan Energi Nuklir

20. Sejarah penggunaan Energi nuklir

21. Energi Nuklir : Kelebihan dan Kelemahan

22. Energi nuklir dalam Memenuhi Listrik Indonesia

23. Prinsip kerja PLTN

24. PLTN di Indonesia

25. Sejarah singkat Pembangunan PLTN di Indonesia

26. Indonesia, Energi dan Teknologi Nuklir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar